•  
Senin, 24 Januari 2011 - 16:30:27 WIB
MUNISASI BCG
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Kebidanan - Dibaca: 84761 kali

Infeksi Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar, angka kesakitan dan kematian akibat Tb dari tahun semakin meningkat. Biasanya penyebab kematian akibat penyakit ini adalah infeksi Tb berat yang salah satunya adalah meningitis Tb.
Meningitis Tb merupakan penyakit yang berbahaya, terutama pada bayi dan anak. Resiko kematin pada penderita sangat tinggi, atau bila penderita mengalami kesembuhan biasanya mengalami gejala sisa yang akan mengganggu fisik dan mungkin mental penderita seumur hidup. Karena resikonya yang fatal ini maka perlu vaksin yang dapat melindungi penderita dari meningitis TB.


Vaksin BCG

Vaksin BCG adalah vaksin bentuk beku kering yang mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/ dosis.
Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL. Imunisasi vaksin BCG ini cukup diberikan satu kali saja, bila pemberian imunisasi ini “berhasil” maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam.
Reaksi yang akan nampak setelah penyuntikan imunisasi ini adalah berupa perubahan warna kulit pada tempat penyuntikan yang akan berubah menjadi pustula kemudian pecah menjadi ulkus, dan akhirnya menyembuh spontan dalam waktu 8 – 12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut. Reaksi lainnya adalah berupa pembesaran kelenjar ketiak atau daerah leher, bila diraba akan terasa padat dan bila ditekan tidak terasa sakit. Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa pembengkakan pada daerah tempat suntikan yang berisi cairan tetapi akan sembuh spontan.

Efek Samping Vaksin BCG

  1. Reaksi normal Bakteri BCG di tubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan garis tengah 10 mm. Kemudian setelah 2-3 minggu, pembengkakan menjadi abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm. Luka tersebut akan sembuh dengan sendirinya dan meninggalkan jaringan parut (scar) bergaris tengah 3-7 mm. Scar ini sangat berguna karena dapat menunjukkan bahwa anak tersebut telah mendapat imunisasi BCG. Hal ini perlu diberitahukan kepada ibu agar tidak memberikan obat apapun pada luka dan membiarkan terbuka atau akan ditutup dengan menggunakan kain kasa kering.
  2. Reaksi berat Kadang-kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses yang lebih dalam. Terkadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe pada leher atau ketiak. Ini mungkin disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu dalam di bawah kulit, mungkin juga disebabkan dosis yang diberikan terlalu tinggi.
  3. Reaksi yang lebih cepat Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap tuberculosis, proses pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu. Ini berarti anak tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak tersebut telah terinfeksi TBC.


Kontra Indikasi. Adanya penyakit kulit yang berat atau menahun seperti eksim, furunkulosis dan sebagainya. (Direktorat Jendral PPM & PL, Departemen Kesehatan RI)



TUJUAN

Pemberian vaksin BCG pada bayi, diharapkan dapat memberikan daya lindung atau kekebalan aktif terhadap penyakit TBC (Tuberkulosis) berat yang diantaranya adalah penyakit meningitis tuberkulosis.

KEBIJAKAN

  • Penentuan diagnosa penderita dilakukan melalui pemeriksaan dahak SPS dengan menggunakan pewarnaan Ziehl Neelsen.
  • Bila pemeriksaan mikroskopik memberikan hasil negative, penderita dirujuk untuk pemeriksaan Ro ke Rumah Sakit.
  • Setiap penderita akan diberikan pengobatan sesuai dengan tipe dan klasifikasinya dengan menggunakan OAT Kat 1, Kat 2, Kat 3 dan sisipan.
  • Setiap penderita yang ditemukan harus mempunyai seorang PMO yang sebelumnya telah diberi penyuluhan tentang apa dan bagaimana penyakit Tb itu serta apa peran dan upaya PMO dalam menyembuhkan penderita.
  • Petugas kesehatan harus tetap mengunjungi Rumah Sakit penderita Tb yang sudah mendapat pengobatan untuk memonitor pemberian obat dan efek samping yang kemungkinan timbul. Selain itu juga untuk mengetahui pula adanya penderita kontak serumah.
  • Setiap penderita yang sudah mendapatkan pengobatan harus dilakukan pemantauan hasil pengobatannya melalui pemeriksaan dahak ulang pada akhir fase intensif, satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan.


STRATEGI

•Meningkatkan kualitas pelayanan
• Mengembangkan pelaksanaan program di seluruh unit pelayanan kesehatan
• Meningkatkan kerjasama dengan semua pihak terkait
• Meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat
• Melaksanakan desentralisasi melalui titik berat manajemen program di kabupaten atau kota
• Mengembangkan pelaksanaan program melalui penelitian

GAMBARAN SINGKAT PENYAKIT

  1. Penyebab Bayi atau anak yang tidak diberikan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guirine) mempunyai resiko yang cukup besar untuk terinfeksi penyakit TBC, yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (bakteri TB). Kuman Tuberkulosis adalah kuman berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat “Dormant”, tertidur lama selama beberapa tahun.
  2. EpidemiologiPatologi TB pada anak, dalam berbagai hal berbeda dengan pada orang dewasa karena kemungkinan komplikasi TB pada anak justru lebih luas. TB pada anak bisa berupa TB kulit, TB tulang sendi, tulang lutut, TB otak dan saraf, TB mata dan di organ lainnya. Sumber penularannya adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan. Terpaparnya pertama kali dengan kuman TB disebut infeksi primer. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus dan terus berjalan hingga sampai di alveolus dan menetap di sana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran limfe akan membawa kuman TB ke kelenjar limfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.


Gejala Klinik


Gejala umum (non spesifik) TB pada anak antara lain, berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam sebulan walau dengan penanganan gizi, nafsu makan tidak ada, demam lama dan berulang tanpa sebab dapat disertai keringat malam, pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, batuk lebih dari 30 hari, dan diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.
Gejala spesifiknya sesuai organ yang terkena. TB tulang dan sendi misalnya, anak pincang atau tulang lututnya bengkak, pembengkakan sendi, sulit membungkuk. Sedangkan, TB otak dan saraf (meningitis) menimbulkan gejala kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun.

Penularan

Penularan terjadi melalui udara yang mengandung basil TB dalam percikan ludah yang dikeluarkan oleh penderita TB paru atau TB laring pada waktu mereka batuk, bersin atau pada waktu bernyanyi. Petugas kesehatan dapat tertulari pada waktu mereka melakukan otopsi, bronkoskopi atau pada waktu mereka melakukan intubasi.
Kontak jangka panjang dengan penderita TB menyebabkan risiko tertulari, infeksi melalui selaput lendir atau kulit yang lecet bisa terjadi namun sangat jarang. TB bovinum penularannya dapat tejadi jika orang terpajan dengan sapi yang menderita TB, bisanya karena minum susu yang tidak dipasteurisasi atau karena mengkonsumsi produk susu yang tidak diolah dengan sempurna. Penularan lewat udara juga terjadi kepada petani dan perternak TB ekstra pulmoner (selain TB laring) biasanya tidak menular, kecuali dari sinus keluar discharge.

SASARAN DAN JENIS ANTIGEN

 

Sasaran. Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan. Biasanya diberikan beberapa hari setelah bayi lahir atau sesudahnya. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja, untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit TBC.
Jenis antigen. Penyakit TBC disebabkan oleh jenis antigen bakteri yaitu Mycobacterium tuberculosis.

JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI


Vaksin BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan, namun pemberian vaksin BCG (bacilius calmette guirine) pada anak-anak tidak bisa menjamin si anak akan bebas dari infeksi kuman penyebab penyakit tuberkulosis (TB), terutama pada anak yang kondisi kesehatannya buruk. Oleh sebab itu dianjurkan untuk melakukan vaksinasi kembali pada saat anak akan masuk sekolah.